04 November, 2026

Ketua PMS Dairi: Tutur Siwaluh Bukan Sekadar Tata Krama, Tetapi Jati Diri & Kekuatan Persaudaraan Suku Karo

MEDAN - Ketua Pemuda Merga Silima (PMS) Kabupaten Dairi, Robert Hendra Ginting, AP, M.Si., mengajak seluruh masyarakat Karo, khususnya generasi muda, untuk terus memahami, menghayati, mempertahankan, dan melestarikan nilai-nilai luhur adat istiadat Karo, terutama sistem kekerabatan yang dikenal dengan istilah Tutur Siwaluh. Menurut Robert, Tutur Siwaluh merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Karo yang memiliki nilai filosofis dan sosial sangat mendalam. Tutur Siwaluh bukan sekadar aturan dalam menyapa atau menentukan panggilan terhadap...

 seseorang, melainkan pedoman dalam membangun hubungan kekeluargaan, memahami kedudukan dalam adat, menjaga kesopanan,  serta menjalankan tanggung jawab sosial di tengah kehidupan masyarakat. 

Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat Karo, hubungan kekerabatan memiliki kedudukan yang sangat penting. Melalui pemahaman Tutur Siwaluh, setiap individu dapat mengenali hubungan kekeluargaan, memahami posisi dan tanggung jawabnya dalam adat, serta menempatkan diri secara tepat ketika berinteraksi dengan orang lain.

"Tutur Siwaluh adalah salah satu kekayaan intelektual dan warisan peradaban leluhur suku Karo. Di dalamnya terkandung nilai penghormatan, kesantunan, persaudaraan, tanggung jawab, dan keseimbangan hubungan antarsesama. Karena itu, Tutur Siwaluh jangan hanya dipahami sebagai tata cara berbicara atau panggilan dalam adat, tetapi harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari," ungkap Robert.

TUTUR SIWALUH HARUS DIWARISKAN KEPADA GENERASI MUDA

Lebih lanjut, Robert menilai bahwa perkembangan zaman, kemajuan teknologi, dan perubahan pola kehidupan masyarakat tidak boleh menjadi alasan bagi generasi muda untuk meninggalkan adat dan budaya leluhurnya.

Ia menyayangkan apabila generasi muda Karo semakin jauh dari pemahaman tentang silsilah keluarga, hubungan kekerabatan, serta tata krama adat yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Karo.

Menurutnya, keluarga, orang tua, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab bersama untuk memperkenalkan serta mengajarkan nilai-nilai Tutur Siwaluh kepada generasi penerus.

"Kita tidak ingin suatu saat generasi muda Karo hanya mengenal nama-nama marga, tetapi tidak lagi memahami hubungan kekerabatan dan bagaimana menempatkan diri dalam adat. Pengetahuan tentang Tutur Siwaluh harus terus diwariskan. Jangan sampai kita menjadi generasi yang menikmati kemajuan zaman, tetapi kehilangan pengetahuan tentang jati diri dan kebudayaan sendiri," tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pemahaman terhadap Tutur Siwaluh harus diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan sekadar pengetahuan yang dihafalkan. Menghormati orang tua, menghargai sesama, menjaga perkataan, memahami kedudukan dalam keluarga, dan mengutamakan musyawarah merupakan bagian dari nilai-nilai kehidupan yang perlu terus dipelihara.

MERGA SILIMA DAN TUTUR SIWALUH SEBAGAI KEKUATAN PERSATUAN


Robert menegaskan bahwa Merga Silima dan Tutur Siwaluh merupakan dua unsur penting dalam identitas kebudayaan masyarakat Karo yang saling berkaitan dalam kehidupan adat dan kekerabatan.

Merga Silima yang terdiri dari lima merga utama, yaitu Karo-karo, Ginting, Sembiring, Perangin-angin, dan Tarigan, merupakan identitas marga masyarakat Karo. Sementara itu, Tutur Siwaluh menjadi pedoman untuk memahami hubungan kekerabatan dan kedudukan seseorang dalam tatanan sosial adat Karo.

Oleh karena itu, ia berharap seluruh masyarakat Karo tidak menjadikan perbedaan merga, latar belakang keluarga, kedudukan sosial, jabatan, maupun kepentingan pribadi sebagai alasan untuk mengurangi rasa persaudaraan.

"Jangan karena perbedaan merga, jabatan, kedudukan, maupun kepentingan tertentu, kita melupakan hubungan kekerabatan. Dalam adat Karo, kita diajarkan untuk memahami siapa saudara kita, bagaimana menghormati orang lain, dan apa tanggung jawab kita terhadap sesama. Inilah nilai yang harus terus kita hidupkan," ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan Karo, khususnya Pemuda Merga Silima, untuk mengambil peran aktif dalam pelestarian adat dan budaya melalui kegiatan pendidikan adat, diskusi kebudayaan, pertemuan generasi muda, serta pelibatan tokoh-tokoh adat yang memahami sejarah dan filosofi kebudayaan Karo.

JANGAN BIARKAN ADAT DAN BUDAYA TERGERUS KEPENTINGAN SESAAT

Dalam pandangannya, Robert juga mengingatkan agar masyarakat Karo tidak kehilangan jati diri akibat godaan materi, uang, jabatan, kekuasaan, maupun kepentingan politik dan ekonomi.

Menurutnya, kemajuan dalam bidang pendidikan, pekerjaan, pemerintahan, politik, dan dunia usaha merupakan sesuatu yang patut diperjuangkan. Namun, semua pencapaian tersebut tidak boleh membuat seseorang melupakan identitas, hubungan persaudaraan, dan kehormatan adat istiadatnya.

"Silakan kita mengejar pendidikan setinggi-tingginya, meraih jabatan, membangun usaha, dan mencapai keberhasilan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, jangan pernah mengorbankan identitas, persaudaraan, dan kehormatan adat hanya demi kepentingan sesaat. Jabatan dapat berganti, kekayaan dapat berubah, tetapi jati diri dan nilai luhur budaya harus tetap kita pertahankan," ungkapnya.

Ia berharap nilai-nilai Tutur Siwaluh dapat menjadi kekuatan moral dalam membangun masyarakat Karo yang saling menghargai, memiliki solidaritas tinggi, serta tidak mudah terpecah oleh kepentingan pribadi maupun kelompok.

BUDAYA KARO HARUS DIHORMATI DAN DILINDUNGI

Di akhir pernyataannya, Robert Hendra Ginting menegaskan bahwa pelestarian adat dan budaya Karo harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap adat dan budaya suku-suku lainnya.

Menurutnya, masyarakat Karo yang hidup berdampingan dengan masyarakat Pakpak dan berbagai kelompok suku lainnya harus terus mengedepankan toleransi, persaudaraan, serta saling menghormati keberagaman.

Ia menilai bahwa setiap suku memiliki kekayaan adat, filosofi, dan sistem kekerabatan masing-masing yang patut dihormati dan dilestarikan.

"Budaya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling dihormati. Kita harus bangga menjadi orang Karo tanpa merendahkan budaya suku lain. Kita harus mampu menjaga identitas sendiri sekaligus menghormati identitas saudara-saudara kita yang berbeda suku dan adat istiadat," tambahnya.

Robert berharap Tutur Siwaluh tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Karo dalam acara-acara adat, tetapi benar-benar menjadi pedoman kehidupan yang diwariskan secara berkelanjutan kepada anak cucu.

"Pesan saya kepada generasi muda Karo, kenali merga, pahami tutur, hormati adat, cintai budaya, dan jagalah persaudaraan. Jangan sampai kita kehilangan akar budaya hanya karena perubahan zaman. Sebab, bangsa dan masyarakat yang besar adalah masyarakat yang mampu maju mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan sejarah, identitas, dan nilai-nilai luhur warisan leluhurnya," tutup Ketua PMS Kabupaten Dairi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon Tinggalkan Pesan