MEDAN - Ketua Pemuda Merga Silima (PMS) Kabupaten Dairi, Robert
Hendra Ginting, AP, M.Si., mengajak seluruh masyarakat Karo, khususnya generasi
muda, untuk terus memahami, menghayati, mempertahankan, dan melestarikan
nilai-nilai luhur adat istiadat Karo, terutama sistem kekerabatan yang dikenal
dengan istilah Tutur Siwaluh. Menurut Robert, Tutur Siwaluh
merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Karo yang memiliki nilai
filosofis dan sosial sangat mendalam. Tutur Siwaluh bukan sekadar aturan dalam
menyapa atau menentukan panggilan terhadap...
seseorang, melainkan pedoman dalam membangun hubungan kekeluargaan, memahami kedudukan dalam adat, menjaga kesopanan, serta menjalankan tanggung jawab sosial di tengah kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan
masyarakat Karo, hubungan kekerabatan memiliki kedudukan yang sangat penting.
Melalui pemahaman Tutur Siwaluh, setiap individu dapat mengenali hubungan
kekeluargaan, memahami posisi dan tanggung jawabnya dalam adat, serta
menempatkan diri secara tepat ketika berinteraksi dengan orang lain.
"Tutur Siwaluh adalah salah
satu kekayaan intelektual dan warisan peradaban leluhur suku Karo. Di dalamnya
terkandung nilai penghormatan, kesantunan, persaudaraan, tanggung jawab, dan
keseimbangan hubungan antarsesama. Karena itu, Tutur Siwaluh jangan hanya
dipahami sebagai tata cara berbicara atau panggilan dalam adat, tetapi harus
menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari," ungkap Robert.
TUTUR
SIWALUH HARUS DIWARISKAN KEPADA GENERASI MUDA
Lebih lanjut, Robert menilai bahwa
perkembangan zaman, kemajuan teknologi, dan perubahan pola kehidupan masyarakat
tidak boleh menjadi alasan bagi generasi muda untuk meninggalkan adat dan
budaya leluhurnya.
Ia menyayangkan apabila generasi
muda Karo semakin jauh dari pemahaman tentang silsilah keluarga, hubungan
kekerabatan, serta tata krama adat yang selama ini menjadi fondasi kehidupan
masyarakat Karo.
Menurutnya, keluarga, orang tua,
tokoh adat, tokoh masyarakat, dan organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab
bersama untuk memperkenalkan serta mengajarkan nilai-nilai Tutur Siwaluh kepada
generasi penerus.
"Kita tidak ingin suatu saat
generasi muda Karo hanya mengenal nama-nama marga, tetapi tidak lagi memahami
hubungan kekerabatan dan bagaimana menempatkan diri dalam adat. Pengetahuan
tentang Tutur Siwaluh harus terus diwariskan. Jangan sampai kita menjadi
generasi yang menikmati kemajuan zaman, tetapi kehilangan pengetahuan tentang
jati diri dan kebudayaan sendiri," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemahaman
terhadap Tutur Siwaluh harus diwujudkan dalam perilaku nyata, bukan sekadar
pengetahuan yang dihafalkan. Menghormati orang tua, menghargai sesama, menjaga
perkataan, memahami kedudukan dalam keluarga, dan mengutamakan musyawarah
merupakan bagian dari nilai-nilai kehidupan yang perlu terus dipelihara.
MERGA
SILIMA DAN TUTUR SIWALUH SEBAGAI KEKUATAN PERSATUAN
Robert menegaskan bahwa Merga Silima
dan Tutur Siwaluh merupakan dua unsur penting dalam identitas kebudayaan
masyarakat Karo yang saling berkaitan dalam kehidupan adat dan kekerabatan.
Merga Silima yang terdiri dari lima
merga utama, yaitu Karo-karo, Ginting, Sembiring, Perangin-angin, dan Tarigan,
merupakan identitas marga masyarakat Karo. Sementara itu, Tutur Siwaluh menjadi
pedoman untuk memahami hubungan kekerabatan dan kedudukan seseorang dalam
tatanan sosial adat Karo.
Oleh karena itu, ia berharap seluruh
masyarakat Karo tidak menjadikan perbedaan merga, latar belakang keluarga,
kedudukan sosial, jabatan, maupun kepentingan pribadi sebagai alasan untuk
mengurangi rasa persaudaraan.
"Jangan karena perbedaan merga,
jabatan, kedudukan, maupun kepentingan tertentu, kita melupakan hubungan
kekerabatan. Dalam adat Karo, kita diajarkan untuk memahami siapa saudara kita,
bagaimana menghormati orang lain, dan apa tanggung jawab kita terhadap sesama.
Inilah nilai yang harus terus kita hidupkan," ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh organisasi
kemasyarakatan Karo, khususnya Pemuda Merga Silima, untuk mengambil peran aktif
dalam pelestarian adat dan budaya melalui kegiatan pendidikan adat, diskusi
kebudayaan, pertemuan generasi muda, serta pelibatan tokoh-tokoh adat yang
memahami sejarah dan filosofi kebudayaan Karo.
JANGAN
BIARKAN ADAT DAN BUDAYA TERGERUS KEPENTINGAN SESAAT
Dalam pandangannya, Robert juga
mengingatkan agar masyarakat Karo tidak kehilangan jati diri akibat godaan
materi, uang, jabatan, kekuasaan, maupun kepentingan politik dan ekonomi.
Menurutnya, kemajuan dalam bidang
pendidikan, pekerjaan, pemerintahan, politik, dan dunia usaha merupakan sesuatu
yang patut diperjuangkan. Namun, semua pencapaian tersebut tidak boleh membuat
seseorang melupakan identitas, hubungan persaudaraan, dan kehormatan adat
istiadatnya.
"Silakan kita mengejar
pendidikan setinggi-tingginya, meraih jabatan, membangun usaha, dan mencapai
keberhasilan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, jangan pernah mengorbankan
identitas, persaudaraan, dan kehormatan adat hanya demi kepentingan sesaat.
Jabatan dapat berganti, kekayaan dapat berubah, tetapi jati diri dan nilai
luhur budaya harus tetap kita pertahankan," ungkapnya.
Ia berharap nilai-nilai Tutur
Siwaluh dapat menjadi kekuatan moral dalam membangun masyarakat Karo yang
saling menghargai, memiliki solidaritas tinggi, serta tidak mudah terpecah oleh
kepentingan pribadi maupun kelompok.
BUDAYA
KARO HARUS DIHORMATI DAN DILINDUNGI
Di akhir pernyataannya, Robert
Hendra Ginting menegaskan bahwa pelestarian adat dan budaya Karo harus berjalan
seiring dengan penghormatan terhadap adat dan budaya suku-suku lainnya.
Menurutnya, masyarakat Karo yang
hidup berdampingan dengan masyarakat Pakpak dan berbagai kelompok suku lainnya
harus terus mengedepankan toleransi, persaudaraan, serta saling menghormati
keberagaman.
Ia menilai bahwa setiap suku
memiliki kekayaan adat, filosofi, dan sistem kekerabatan masing-masing yang
patut dihormati dan dilestarikan.
"Budaya bukan untuk
dipertentangkan, melainkan untuk saling dihormati. Kita harus bangga menjadi
orang Karo tanpa merendahkan budaya suku lain. Kita harus mampu menjaga
identitas sendiri sekaligus menghormati identitas saudara-saudara kita yang
berbeda suku dan adat istiadat," tambahnya.
Robert berharap Tutur Siwaluh tidak
hanya menjadi kebanggaan masyarakat Karo dalam acara-acara adat, tetapi
benar-benar menjadi pedoman kehidupan yang diwariskan secara berkelanjutan
kepada anak cucu.
"Pesan saya kepada generasi
muda Karo, kenali merga, pahami tutur, hormati adat, cintai budaya, dan jagalah
persaudaraan. Jangan sampai kita kehilangan akar budaya hanya karena perubahan
zaman. Sebab, bangsa dan masyarakat yang besar adalah masyarakat yang mampu
maju mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan sejarah, identitas, dan
nilai-nilai luhur warisan leluhurnya," tutup Ketua PMS Kabupaten Dairi
tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon Tinggalkan Pesan