MEDAN - Ketua Pemuda Merga Silima (PMS) Kabupaten Dairi, Robert
Hendra Ginting, AP, M.Si., mengajak seluruh masyarakat Karo, khususnya generasi
muda, untuk mengenal, memahami, menjaga, dan melestarikan Siwaluh Jabu sebagai
salah satu warisan arsitektur tradisional sekaligus bukti tingginya nilai
peradaban leluhur suku Karo
Menurut Robert, Siwaluh Jabu bukan sekadar bangunan rumah
adat yang memiliki bentuk arsitektur khas, tetapi juga mencerminkan sistem
kehidupan sosial masyarakat Karo yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan,
kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, penghormatan, serta keharmonisan
dalam ...
kehidupan bermasyarakat. Ia menjelaskan bahwa Siwaluh Jabu secara umum dikenal sebagai rumah adat Karo yang dihuni oleh beberapa keluarga dalam satu bangunan dengan pembagian ruang dan kedudukan berdasarkan tatanan adat. Dalam konsep tradisionalnya terdapat delapan jabu atau bagian hunian yang memiliki fungsi dan kedudukan masing-masing.
"Siwaluh
Jabu merupakan salah satu bukti bahwa leluhur suku Karo telah memiliki
peradaban dan tata kehidupan sosial yang sangat baik. Rumah adat ini bukan
hanya tempat tinggal, melainkan menggambarkan bagaimana masyarakat Karo
membangun kehidupan bersama, saling menghormati, berbagi tanggung jawab, dan
menjaga keharmonisan dalam satu ikatan kekeluargaan," ungkap Robert.
DELAPAN
JABU, DELAPAN PERAN DALAM KEHIDUPAN BERSAMA
Robert
menerangkan bahwa dalam pengenalan susunan Siwaluh Jabu dikenal delapan posisi
jabu yang masing-masing memiliki sebutan dan fungsi berdasarkan tatanan adat. Adapun
delapan jabu tersebut meliputi:
1.
Jabu
Bena Kayu –
Pangkal kayu atau jabu raja, yang dalam susunan yang dijelaskan pada ilustrasi
memiliki kedudukan sebagai pemimpin dan penanggung jawab rumah.
2. Jabu
Ujung Kayu – Berkaitan
dengan anak beru dari Bena Kayu, yang memiliki peran dalam membantu urusan adat
dan menjaga keharmonisan.
3. Jabu
Lepar Bena Kayu
– Berkaitan dengan senina dari Bena Kayu, yang berperan dalam hubungan
kekeluargaan dan penyampaian informasi.
4. Jabu
Lepar Ujung Kayu
– Berkaitan dengan kalimbubu, yaitu pihak keluarga pemberi perempuan yang
mendapatkan penghormatan dalam adat.
5. Jabu
Sedapur Bena Kayu
– Jabu yang dalam ilustrasi dikaitkan dengan Jabu Silengguri atau
Peningel-ningel, yang membantu informasi dan urusan sehari-hari.
6. Jabu
Sedapur Ujung Kayu
– Berkaitan dengan anak beru yang membantu tugas kerabat hulu.
7. Jabu
Sedapur Lepar Bena Kayu
– Dikenal dalam ilustrasi sebagai Jabu Guru, yang berkaitan dengan urusan
ritual, kepercayaan, dan pengobatan tradisional.
8. Jabu
Sedapur Lepar Ujung Kayu
– Dikenal sebagai Jabu Si Ngapuri Belo, yang berkaitan dengan penyambutan tamu
dan penyediaan sirih atau perlengkapan adat.
Dalam
susunan tersebut, setiap dua jabu berbagi satu tungku perapian. Hal ini
menggambarkan adanya kebersamaan dan keterhubungan antarkeluarga dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari.
Menurut
Robert, pembagian ruang, kedudukan, dan tanggung jawab tersebut memperlihatkan
bahwa kehidupan masyarakat Karo sejak dahulu telah dibangun berdasarkan
keteraturan sosial, penghormatan terhadap hubungan kekerabatan, serta semangat
saling membantu.
SIWALUH
JABU MENCERMINKAN NILAI GOTONG ROYONG DAN PERSAUDARAAN
Lebih
jauh, Robert menilai bahwa filosofi Siwaluh Jabu sangat relevan dengan
kehidupan masyarakat modern saat ini.
Di
tengah perkembangan zaman yang semakin individualistis, nilai kebersamaan yang
tercermin dalam kehidupan penghuni Siwaluh Jabu perlu kembali diperkenalkan
kepada generasi muda.
Menurutnya,
kehidupan dalam satu rumah adat mengajarkan bahwa setiap orang memiliki
kedudukan, peran, dan tanggung jawab. Tidak ada kehidupan bersama yang dapat
berjalan dengan baik apabila setiap orang hanya memikirkan kepentingannya
sendiri.
"Siwaluh
Jabu mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan harus dibangun dengan kebersamaan.
Setiap keluarga memiliki peran, setiap orang memiliki tanggung jawab, dan semua
harus saling menghormati. Nilai gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial
yang terkandung di dalamnya merupakan pelajaran berharga bagi kehidupan
masyarakat sekarang," tegasnya.
Ia
juga menilai bahwa nilai-nilai Siwaluh Jabu memiliki keterkaitan erat dengan
sistem kekerabatan masyarakat Karo, termasuk Merga Silima, Rakut Sitelu, Tutur
Siwaluh, dan Perkade-kaden.
Seluruh
unsur tersebut merupakan kekayaan adat dan budaya yang saling melengkapi dalam
membentuk identitas serta tata kehidupan sosial masyarakat Karo.
GENERASI
MUDA JANGAN KEHILANGAN AKAR BUDAYA
Robert
mengingatkan bahwa pelestarian Siwaluh Jabu tidak cukup hanya dengan
mempertahankan bangunan fisiknya, tetapi juga harus menjaga pengetahuan,
filosofi, nilai sosial, dan makna adat yang terkandung di dalamnya.
Ia
berharap pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, serta
organisasi kepemudaan dapat mengambil bagian dalam memperkenalkan rumah adat
Karo kepada generasi penerus.
Menurutnya,
Siwaluh Jabu perlu menjadi bagian dari pendidikan kebudayaan agar anak-anak
muda tidak hanya mengenal bentuk bangunannya, tetapi juga memahami bagaimana
leluhur membangun kehidupan berdasarkan kebersamaan dan tanggung jawab.
"Jangan
sampai generasi muda kita hanya mengenal Siwaluh Jabu melalui gambar atau buku,
tetapi tidak memahami filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Kita
harus mewariskan bukan hanya bangunan rumah adat, tetapi juga nilai-nilai luhur
yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Karo," ujarnya.
Ia
menambahkan bahwa kemajuan pendidikan, teknologi, ekonomi, maupun pencapaian
jabatan harus berjalan seiring dengan pelestarian identitas budaya.
"Silakan
kita maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan pernah melupakan akar
budaya. Jangan sampai kita bangga dengan kemajuan modernisasi, tetapi justru
kehilangan pengetahuan tentang sejarah, adat istiadat, dan peradaban leluhur
sendiri," tambahnya.
SIWALUH
JABU SEBAGAI SIMBOL PERSATUAN DAN KEHARMONISAN
Di
akhir pernyataannya, Robert Hendra Ginting menegaskan bahwa pelestarian rumah
adat dan kebudayaan Karo harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh
masyarakat Karo, tanpa memandang latar belakang, kedudukan, maupun kepentingan
kelompok.
Ia
juga mengingatkan bahwa kecintaan terhadap budaya sendiri harus diiringi dengan
sikap menghormati adat dan budaya suku-suku lainnya.
Menurutnya,
masyarakat Karo yang hidup berdampingan dengan masyarakat Pakpak dan berbagai
kelompok masyarakat lainnya di Kabupaten Dairi harus terus memperkuat
persaudaraan, toleransi, dan keharmonisan.
"Melestarikan
budaya Karo bukan berarti menutup diri dari budaya lain. Justru melalui
pemahaman terhadap budaya sendiri, kita dapat belajar menghargai dan
menghormati budaya saudara-saudara kita. Setiap suku memiliki warisan leluhur
yang patut dijaga dan dihormati," ungkapnya.
Ia
berharap Siwaluh Jabu dapat terus diperkenalkan sebagai salah satu kebanggaan
masyarakat Karo sekaligus menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan sosial
yang harmonis.
"Pesan
kami kepada generasi muda Karo, kenali sejarah leluhur, pahami adat istiadat,
lestarikan rumah adat, dan wariskan nilai-nilai kebersamaan. Siwaluh Jabu
mengajarkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat bukan hanya terletak pada bangunan
yang kokoh, tetapi pada persaudaraan, tanggung jawab, dan kebersamaan
orang-orang yang hidup di dalamnya," tutup Robert Hendra Ginting.
Pemuda
Merga Silima Kabupaten Dairi berharap Siwaluh Jabu tetap menjadi kebanggaan dan
identitas budaya masyarakat Karo, sekaligus menjadi warisan peradaban yang
terus hidup dan diwariskan kepada generasi demi generasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon Tinggalkan Pesan