04 November, 2026

Ketua PMS Dairi: Siwaluh Jabu Bukti Peradaban Suku Karo, Warisan Leluhur Yang Wajib Dilestarikan

MEDAN -  Ketua Pemuda Merga Silima (PMS) Kabupaten Dairi, Robert Hendra Ginting, AP, M.Si., mengajak seluruh masyarakat Karo, khususnya generasi muda, untuk mengenal, memahami, menjaga, dan melestarikan Siwaluh Jabu sebagai salah satu warisan arsitektur tradisional sekaligus bukti tingginya nilai peradaban leluhur suku Karo 

Menurut Robert, Siwaluh Jabu bukan sekadar bangunan rumah adat yang memiliki bentuk arsitektur khas, tetapi juga mencerminkan sistem kehidupan sosial masyarakat Karo yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, penghormatan, serta keharmonisan dalam ...

kehidupan bermasyarakat. Ia menjelaskan bahwa Siwaluh Jabu secara umum dikenal sebagai rumah adat Karo yang dihuni oleh beberapa keluarga dalam satu bangunan dengan pembagian ruang dan kedudukan berdasarkan tatanan adat. Dalam konsep tradisionalnya terdapat delapan jabu atau bagian hunian yang memiliki fungsi dan kedudukan masing-masing.

"Siwaluh Jabu merupakan salah satu bukti bahwa leluhur suku Karo telah memiliki peradaban dan tata kehidupan sosial yang sangat baik. Rumah adat ini bukan hanya tempat tinggal, melainkan menggambarkan bagaimana masyarakat Karo membangun kehidupan bersama, saling menghormati, berbagi tanggung jawab, dan menjaga keharmonisan dalam satu ikatan kekeluargaan," ungkap Robert.

DELAPAN JABU, DELAPAN PERAN DALAM KEHIDUPAN BERSAMA

Robert menerangkan bahwa dalam pengenalan susunan Siwaluh Jabu dikenal delapan posisi jabu yang masing-masing memiliki sebutan dan fungsi berdasarkan tatanan adat. Adapun delapan jabu tersebut meliputi:

1.    Jabu Bena Kayu – Pangkal kayu atau jabu raja, yang dalam susunan yang dijelaskan pada ilustrasi memiliki kedudukan sebagai pemimpin dan penanggung jawab rumah.
2.   Jabu Ujung Kayu – Berkaitan dengan anak beru dari Bena Kayu, yang memiliki peran dalam membantu urusan adat dan menjaga keharmonisan.
3.  Jabu Lepar Bena Kayu – Berkaitan dengan senina dari Bena Kayu, yang berperan dalam hubungan kekeluargaan dan penyampaian informasi.
4.   Jabu Lepar Ujung Kayu – Berkaitan dengan kalimbubu, yaitu pihak keluarga pemberi perempuan yang mendapatkan penghormatan dalam adat.
5. Jabu Sedapur Bena Kayu – Jabu yang dalam ilustrasi dikaitkan dengan Jabu Silengguri atau Peningel-ningel, yang membantu informasi dan urusan sehari-hari.
6. Jabu Sedapur Ujung Kayu – Berkaitan dengan anak beru yang membantu tugas kerabat hulu.
7.  Jabu Sedapur Lepar Bena Kayu – Dikenal dalam ilustrasi sebagai Jabu Guru, yang berkaitan dengan urusan ritual, kepercayaan, dan pengobatan tradisional.
8.  Jabu Sedapur Lepar Ujung Kayu – Dikenal sebagai Jabu Si Ngapuri Belo, yang berkaitan dengan penyambutan tamu dan penyediaan sirih atau perlengkapan adat.

Dalam susunan tersebut, setiap dua jabu berbagi satu tungku perapian. Hal ini menggambarkan adanya kebersamaan dan keterhubungan antarkeluarga dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Menurut Robert, pembagian ruang, kedudukan, dan tanggung jawab tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat Karo sejak dahulu telah dibangun berdasarkan keteraturan sosial, penghormatan terhadap hubungan kekerabatan, serta semangat saling membantu.

SIWALUH JABU MENCERMINKAN NILAI GOTONG ROYONG DAN PERSAUDARAAN

Lebih jauh, Robert menilai bahwa filosofi Siwaluh Jabu sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern saat ini. 

Di tengah perkembangan zaman yang semakin individualistis, nilai kebersamaan yang tercermin dalam kehidupan penghuni Siwaluh Jabu perlu kembali diperkenalkan kepada generasi muda.

Menurutnya, kehidupan dalam satu rumah adat mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kedudukan, peran, dan tanggung jawab. Tidak ada kehidupan bersama yang dapat berjalan dengan baik apabila setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

"Siwaluh Jabu mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan harus dibangun dengan kebersamaan. Setiap keluarga memiliki peran, setiap orang memiliki tanggung jawab, dan semua harus saling menghormati. Nilai gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial yang terkandung di dalamnya merupakan pelajaran berharga bagi kehidupan masyarakat sekarang," tegasnya.

Ia juga menilai bahwa nilai-nilai Siwaluh Jabu memiliki keterkaitan erat dengan sistem kekerabatan masyarakat Karo, termasuk Merga Silima, Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh, dan Perkade-kaden.

Seluruh unsur tersebut merupakan kekayaan adat dan budaya yang saling melengkapi dalam membentuk identitas serta tata kehidupan sosial masyarakat Karo.

GENERASI MUDA JANGAN KEHILANGAN AKAR BUDAYA


Robert mengingatkan bahwa pelestarian Siwaluh Jabu tidak cukup hanya dengan mempertahankan bangunan fisiknya, tetapi juga harus menjaga pengetahuan, filosofi, nilai sosial, dan makna adat yang terkandung di dalamnya.

Ia berharap pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, serta organisasi kepemudaan dapat mengambil bagian dalam memperkenalkan rumah adat Karo kepada generasi penerus.

Menurutnya, Siwaluh Jabu perlu menjadi bagian dari pendidikan kebudayaan agar anak-anak muda tidak hanya mengenal bentuk bangunannya, tetapi juga memahami bagaimana leluhur membangun kehidupan berdasarkan kebersamaan dan tanggung jawab.

"Jangan sampai generasi muda kita hanya mengenal Siwaluh Jabu melalui gambar atau buku, tetapi tidak memahami filosofi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Kita harus mewariskan bukan hanya bangunan rumah adat, tetapi juga nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Karo," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kemajuan pendidikan, teknologi, ekonomi, maupun pencapaian jabatan harus berjalan seiring dengan pelestarian identitas budaya.

"Silakan kita maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan pernah melupakan akar budaya. Jangan sampai kita bangga dengan kemajuan modernisasi, tetapi justru kehilangan pengetahuan tentang sejarah, adat istiadat, dan peradaban leluhur sendiri," tambahnya.

SIWALUH JABU SEBAGAI SIMBOL PERSATUAN DAN KEHARMONISAN

Di akhir pernyataannya, Robert Hendra Ginting menegaskan bahwa pelestarian rumah adat dan kebudayaan Karo harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Karo, tanpa memandang latar belakang, kedudukan, maupun kepentingan kelompok.

Ia juga mengingatkan bahwa kecintaan terhadap budaya sendiri harus diiringi dengan sikap menghormati adat dan budaya suku-suku lainnya.

Menurutnya, masyarakat Karo yang hidup berdampingan dengan masyarakat Pakpak dan berbagai kelompok masyarakat lainnya di Kabupaten Dairi harus terus memperkuat persaudaraan, toleransi, dan keharmonisan.

"Melestarikan budaya Karo bukan berarti menutup diri dari budaya lain. Justru melalui pemahaman terhadap budaya sendiri, kita dapat belajar menghargai dan menghormati budaya saudara-saudara kita. Setiap suku memiliki warisan leluhur yang patut dijaga dan dihormati," ungkapnya.

Ia berharap Siwaluh Jabu dapat terus diperkenalkan sebagai salah satu kebanggaan masyarakat Karo sekaligus menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

"Pesan kami kepada generasi muda Karo, kenali sejarah leluhur, pahami adat istiadat, lestarikan rumah adat, dan wariskan nilai-nilai kebersamaan. Siwaluh Jabu mengajarkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat bukan hanya terletak pada bangunan yang kokoh, tetapi pada persaudaraan, tanggung jawab, dan kebersamaan orang-orang yang hidup di dalamnya," tutup Robert Hendra Ginting.

Pemuda Merga Silima Kabupaten Dairi berharap Siwaluh Jabu tetap menjadi kebanggaan dan identitas budaya masyarakat Karo, sekaligus menjadi warisan peradaban yang terus hidup dan diwariskan kepada generasi demi generasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon Tinggalkan Pesan