PMS - Apakah Kesan ndu kalau mendengar Tumbuk Lada ? Ngeri, bergidik atau bangga ? Banyak
orang Karo yang melihat tumbuk lada hanya alat untuk menikam, tah pe
ipake guna nebak. Sehingga cenderung menghindarinya. Ternyata, banyak
sekali nilai dan muatan budaya di dalam tumbuk lada.Seorang mahasiswi cantik
Jurusan sejarah dari Universitas Medan, melakukan penelitan skpripsinya tentang
tumbuk lada dan menemukan makna filosis nya dalam budaya Karo.
Baca dan
simaklah artikel ini supaya lebih memahami dan mencintai budaya Karo yang
sangat kaya nilai nilai filosofis kehidupan. Sumatera Utara memiliki banyak
etnis yang tersebar didalamnya, salah satunya etnis Karo di Desa Mbetung.
Desa
ini merupakan desa yang terletak di Kabupaten Karo Kecamatan Juhar Sumatera
Utara. Desa tersebut dihuni oleh penduduk asli desa tersebut dengan tradisinya. Desa ini juga dikenal sebagai desa yang menghargai leluhurnya yang dapat di
lihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan seperti merdang merdem (kerja
tahun) yang dilakukan biasanya tepat setelah acara menanam padi di sawah
selesai.
Sebagai bentuk ucapan rasa syukur kepada TYME yang masih dilakukan
setiap tahunnya atau juga yang sering dikenal dengan sebutan pesta tahunan yang
memiliki manfaat ataupun dampak besar bagi penduduk desa ini.
Sejalan dengan
Tradisi Mbere besi mersik juga merupakan suatu tradisi yang diperoleh leluhur
etnis karo yang menjadi identitas dari desa Mbetung Kecamatan Juhar. Mbere
(memberi), Besi (Senjata tradisional Tumbuk Lada), Mersik (kuat, kokoh, berani)
dimana masyarakat percaya bahwa tradisi Mbere Besi Mersik /Penyerahan Tumbuk Lada
penting untuk dilakukan karena mereka meyakini tradisi ini sebagai penguat roh
dan pengikat roh.
Tradisi ini adalah hal yang lumrah dilakukan karena secara
garis besar tradisi ini adalah ritual yang wajib dan berdampak besar bagi
seseorang yang sudah menerima dan pun yang belum menerima nya.
Adapun filosofi
yang menjadikan tradisi ini masih ada sampai saat ini, dikarenakan adanya
pengaruh besar dari sistem kekerabatan yang kental pada Etnis karo yaitu pihak
Anak beru mengemban tugas melindungi serta menghormati/menghargai pihak
Kalimbubu karena pada sistem kekerabatan Etnis Karo Kalimbubu ini di anggap
sebagai Dibata idah (Tuhan yang terlihat).
Sedangkan pihak Anak beru sebagai
garda terdepan, pahlawan serta penolong dalam sistem kekerabatan Etnis Karo. Tradisi Mbere
Besi Mersik merupakan proses penyerahan tumbuk lada yang diberikan Kalimbubu
(abang/adik laki-laki) dari ibu kepada anak beru atau bere-bere (anak
laki-laki).
Bagi penduduk desa Mbetung tradisi ini penting dilakukan terhadap
anak laki-laki dalam satu keluarga karena dengan terealisasinya penyerahan
tumbuk lada Mbere Besi Mersik ini memberikan hasil ataupun dampak yang besar
terhadap orang-orang yang menerima tradisi tersebut.
Seperti yang sudah
disampaikan di awal adapun alasan dari pemberian tumbuk lada ini, yaitu sebagai
bentuk lambang tanggung jawab serta berguna sebagai penguat ataupun pengikat
roh.
Penduduk yang tinggal desa Mbetung mengenal bahwa alam semesta serta
isinya memiliki roh (tendi) masing-masing. Bukan hanya manusia melainkan benda
mati maupun hidup dan segala bentuk hal yang ada di bumi.
Tumbuk Lada merupakan
senjata tajam tradisional etnis Karo yang secara sejarahnya berasal dari masa
kerajaan Aru. Tumbuk lada ini di percaya memiliki nilai leluhur yang tinggi di
dalamnya, tumbuk lada tersebut terbuat dari bahan kuningan.
Tumbuk lada ini
juga memiliki ukiran-ukiran yang berfungsi bukan hanya sebagai keindahan pada
senjata ini namun memiliki makna khusus yang memiliki pengaruh terhadap tumbuk
lada itu sendiri.
Ukiran yang tampak pada Tumbuk Lada dianggap memiliki makna
yang berperan penting dalam keteguhan yang terkandung pada Pisau Tumbuk Lada
tersebut. Pada zaman dahulu pisau ini merupakan senjata tradisional masyarakat
Karo, yang diketahui memiliki makna simbol lambang nilai.
Tradisi tersebut
dilaksanakan pada saat nangkih-nangkih matawari (saat matahari mulai naik)
dengan jangka waktu jam 08:00-11:00 WIB, tradisi ini dilaksanakan saat pihak
Kalimbubu (Abang/adik laki-laki dari ibu) sudah merasa pantas dilaksanakan atau
diberikan dan jika bere-bere dalam keadaan kurang sehat maka akan diberikan
kepada Anak Beru ataupun dalam bahasa karo disebut bere-bere (anak laki-laki ).
Tumbuk
lada ini sendiri akan di serahkan langsung oleh kalimbubu (abang/adik laki-laki
dari ibu) bersamaan dengan pedah-pedah (doa serta harapan baik) yang diucapkan
langsung beserta perangkat lainnya seperti beka buluh (Kain Karo) setelah itu
njujungi beras (menaruh beras ke kepala) oleh semua pelaku yang ikut dalam
proses pemberian Tumbuk Lada tersebut.
Tradisi Mbere Besi Mersik merupakan
proses penyerahan tumbuk lada yang diberikan Kalimbubu (abang/adik laki-laki)
dari ibu kepada anak beru atau bere-bere (anak laki-laki).
Bagi penduduk desa
Mbetung tradisi ini penting dilakukan terhadap anak laki-laki dalam satu keluarga
karena dengan terealisasinya penyerahan tumbuk lada Mbere Besi Mersik ini
memberikan hasil ataupun dampak yang besar terhadap orang-orang yang menerima
tradisi tersebut.
Seperti yang sudah disampaikan di awal adapun alasan dari
pemberian tumbuk lada ini, yaitu sebagai bentuk lambang tanggung jawab serta
berguna sebagai penguat ataupun pengikat roh.
Penduduk yang tinggal desa
Mbetung mengenal bahwa alam semesta serta isinya memiliki roh (tendi)
masing-masing. Bukan hanya manusia melainkan benda mati maupun hidup dan segala
bentuk hal yang ada di bumi.
Tumbuk Lada merupakan senjata tajam tradisional
etnis Karo yang secara sejarahnya berasal dari masa kerajaan Aru. Tumbuk lada
ini di percaya memiliki nilai leluhur yang tinggi di dalamnya, tumbuk lada tersebut
terbuat dari bahan kuningan.
Tumbuk lada ini juga memiliki ukiran-ukiran yang
berfungsi bukan hanya sebagai keindahan pada senjata ini namun memiliki makna
khusus yang memiliki pengaruh terhadap tumbuk lada itu sendiri.
Ukiran yang
tampak pada Tumbuk Lada dianggap memiliki makna yang berperan penting dalam
keteguhan yang terkandung pada Pisau Tumbuk Lada tersebut. Pada zaman dahulu
pisau ini merupakan senjata tradisional masyarakat Karo, yang diketahui
memiliki makna simbol lambang nilai.
Kalender karo juga merupakan salah satu
pelengkap yang sangat penting akan pemilihan hari pelaksanaan pemberian tumbuk
lada niktik wari.
Proses kelancaran upacara tradisi Mbere Besi Mersik
dipercayai etnis Karo Desa Mbetung sebagai pendukung maupun patokan yang
dilihat dari jenis hari baik yang sesuai dengan kalender Karo tersebut.
Masyarakat Desa Mbetung memegang teguh terkait tradisi-tradisi yang diperoleh
dari para lelehur mereka.
Bagian-Bagian Spesifik Tumbuk Lada
Sukul (Gagang)
Nilai: Terbuat dari
bahan dasar tanduk kerbau, kuat, tidak mudah pecah.
Simbol: Dapat
berfungsi sebagai penolak bala/penangkal dari roh jahat.
Tegelen (Boltster)
Nilai: Kuat, menyatukan
antara gagang dan bilah pisau untuk memperkuat struktur.
Simbol: Melambangkan
persatuan dan mempererat hubungan.
Mata Piso
Nilai: Bilah pisau yang
tajam, menunjukkan kegunaan pisau.
Simbol: Menyimbolkan
kekuatan dan keberanian dalam kehidupan.
Sangge
Nilai: Terbuat dari
tanduk kerbau yang kuat serta tahan lama.
Simbol: Dapat
berfungsi sebagai penolak bala/penangkal roh jahat.
Sembung (Sarung)
Nilai: Terbuat dari
kayu pohon joar yang kokoh dan tahan lama.
Simbol: Melambangkan
kekuatan dan ketahanan dalam kehidupan.
Rempu (Simpai)
Nilai: Terbuat dari
bahan dasar kulit rotan.
Simbol: Melambangkan
keterikatan dan pemersatu antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Ikur
Nilai: Terbuat dari
tanduk kerbau yang kokoh, kuat, serta gagah.
Simbol: Menunjukkan
kekuatan serta keteguhan dalam menghadapi kesulitan hidup.
Penulis
: Lisentia br Tarigan
Dikutip dari : https://karofoundation.org/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon Tinggalkan Pesan