PMS - Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut Suku Bangsa Karo. Suku Bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi Suku Bangsa Karo sendiri. Suku ini terdiri dari 5 (lima) Merga (Karo-Karo, Ginting, Tarigan, Sembiring dan Peranginangin), Tutur Siwaluh, dan Rakut Sitelu dan perkade-kaden 12+1.
- Merga
Bapa, jadi merga man anak sidilaki jadi beru man anak sidiberu
- Beru
Nande, jadi bere-bere man anak sidilaki ras anak sidiberu
- Bere-bere
Bapa, jadi binuang man anak sidilaki ras anak sidiberu
- Bere-bere
Nande, jadi perkempun man anak sidilaki ras anak sidiberu
- Bere-bere
Nini (Bulang) Arah Bapa, jadi kampah man anak sidilaki ras anak sidiberu
- Bere-bere Nini (Bulang) Arah Nande, jadi soler man anak sidilaki ras anak sidiberu
- Berdasarkan Merga ini maka tersusunlah pola kekerabatan atau yang dikenal dengan Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh dan Perkaden-kaden Sepuluh Dua Tambah Sada.
Rakut Sitelua, yaitu: : Senina/Sembuyak, Kalimbubu dan Anak Beru
Tutur Siwaluh, yaitu:
- Sipemeren
- Siparibanen
- Sipengalon
- Anak Beru
- Anak Beru Menteri
- Anak Beru Singikuri
- Kalimbubu
- Sipemeren
- Siparibanen
- Sipengalon
- Anak Beru
- Anak Beru Menteri
- Anak Beru Singikuri
- Kalimbubu
- Puang Kalimbubu
Perkaden-kaden Sepuluh Dua:
- Nini
- Bulang
- Kempu
- Bapa
- Nande
- Anak
- Bengkila
- Bibi
- Permen
- Mama
- Mami
- Bere-bere
- Bulang
- Kempu
- Bapa
- Nande
- Anak
- Bengkila
- Bibi
- Permen
- Mama
- Mami
- Bere-bere
Dalam
perkembangannya, adat Suku Bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa Suku Bangsa
Indonesia lainnya dapat diterima menjadi Suku Bangsa Karo dengan beberapa
persyaratan adat. dan dinellah Perkade-kaden 12 + 1.
Masyarakat Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan
merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang,
politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan
banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang
didirikan pada tahun 1950.
Masyarakat Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan
merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang,
politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan
banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang
didirikan pada tahun 1950.
Masyarakat Karo kuat berpegang kepada adat istiadat yang luhur,
merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan.Dalam
kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan (sura-sura pusuh peraten) yang
ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) hal pokok yang disebut Tuah,
Sangap, dan Mejuah-juah.
Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat
keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga
kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan
datang.
Sangap berarti mendapat rejeki, kemakmuran bagi pribadi, bagi
anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang.
Mejuah-juah berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai,
bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dan manusia,
antara manusia dan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhannya. Ketiga hal
tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang bulat yang tidak dapat
dipisah-pisahkan satu sama lain.
Sumber tulisan : https://erlajar.karokab.go.id/blog/adat-dan-budaya-karo/read dan
Foto dari : https://medan.tribunnews.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon Tinggalkan Pesan