PMS – Bupati Dairi
Ir. Vickner Sinaga, MM respon cepat terkait tidak adanya Bidan Desa Sinar Pagi
Kecamatan Tanah Pinem selama 2 (dua) tahun...
Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pemuda merga Silima (PMS) Kabupaten Dairi Robert Hendra Gintinig, AP, M.Si, awalnya ia membaca berita di media online sumutpos.jawapos.com dengan headline “Miris, Dua Tahun Warga Desa Sinar
Pagi Dairi Hidup Tanpa Bidan dan Layanan Kesehatan Layak”.
Menanggapi hal ini, Ketua
DPD PMS Dairi melakukan komunikasi dengan Bupati Dairi dan bermohon kiranya
Bupati Dairi membantu dalam penugasan Bidan Desa ke Desa Sinar Pagi ini. Menurutnya, Bupati Dairi langsung meresponnya dan akan segera menindaklanjuti
hal ini dengan instansi terkait.
Ketua DPD PMS Dairi mengaku sangat terkejut membaca berita yang di tampilkan di
sumutpos.jawapos.com mengatakan bahwa di tengah
gencarnya pembangunan dan berbagai program pelayanan publik, ratusan kepala
keluarga di Desa Sinar Pagi, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi, justru
hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Selama dua tahun terakhir, warga desa
terpencil itu nyaris tanpa pelayanan kesehatan dasar karena tidak adanya tenaga bidan
yang menetap. Kondisi tersebut akhirnya disuarakan langsung oleh perwakilan
masyarakat yang tergabung dalam Organisasi Perempuan Desa Sinar Pagi saat
menggelar audiensi ke Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi, Rabu (13/5/2026).
Dalam
pertemuan itu, warga menyampaikan keresahan mereka yang selama ini harus
berjuang sendiri menghadapi persoalan kesehatan, terutama bagi ibu hamil,
balita, lansia, dan warga yang membutuhkan penanganan medis darurat.
Ironisnya,
audiensi yang semula dijadwalkan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Dairi dr Henry
Manik, justru hanya diwakili Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Setyawati
Ginting dan Kepala Puskesmas Tanah Pinem Rismanto Berutu.
Dalam forum tersebut,
perwakilan warga Basaria Situmorang mengungkapkan, selama tidak ada bidan tetap
di desa mereka, masyarakat terpaksa mencari pelayanan kesehatan ke Desa
Pardomuan, Kecamatan Siempat Nempu Hilir.
Untuk mencapai lokasi pelayanan
kesehatan ter terdekat, warga harus menempuh jarak sekitar 10 kilometer.
Sebagian harus berjalan kaki karena kondisi jalan yang rusaak parah dan belum
tersentuh aspal.
“Kalau naik ojek atau mobil gardan dua, ongkos sekali jalan
bisa Rp80 ribu. Kalau pulang-pergi Rp160 ribu. Itu sangat berat bagi warga
kurang mampu,” kata Basaria.
Kondisi itu membuat warga kerap kesulitan
mendapatkan pertolongan medis secara cepat, terutama dalam situasi darurat.
Infrastruktur jalan yang buruk semakin memperparah keterisolasian Desa Sinar
Pagi.
Menurut warga, akses menuju desa mereka baik dari arah Tanah Pinem maupun
Siempat Nempu Hilir masih berupa jalan tanah yang sulit dilalui, khususnya saat
musim hujan.
“Kami merasa seperti belum merdeka sepenuhnya. Indonesia sudah 81
tahun merdeka, tapi jalan kami belum aspal dan pelayanan kesehatan pun tidak
ada,” ungkap Layasna Berutu dengan nada kecewa.
Ia menyebut, selama dua tahun
terakhir warga telah berulang kali menyurati Dinas Kesehatan Dairi agar menempatkan bidan di desa
mereka. Namun hingga kini belum ada solusi nyata.
“Bidan hanya sesekali
datang untuk Posyandu, itu pun tidak rutin. Padahal banyak balita dan ibu hamil
yang membutuhkan pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Melalui audiensi tersebut, warga
mendesak Pemerintah Kabupaten Dairi segera mengambil langkah konkret dengan
menempatkan bidan tetap di Desa Sinar Pagi serta memastikan pelayanan kesehatan
dasar berjalan secara berkelanjutan.
Menanggapi
aspirasi warga, Kepala Puskesmas Kutabuluh Rismanto Berutu menyatakan pihaknya
telah menghubungi tenaga bidan yang direncanakan akan ditempatkan di Desa Sinar
Pagi.
“Saat ini administrasinya sedang diproses,”
ujarnya singkat. Sementara itu, Kasubbag Umum Dinas Kesehatan Dairi,
Melpa EJS, mengatakan keluhan warga akan disampaikan kepada Kepala Dinas
Kesehatan untuk ditindaklanjuti. Namun ia belum dapat memastikan kapan penempatan
bidan tersebut direalisasikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon Tinggalkan Pesan