PMS – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pemuda Merga Silima (PMS) Kabupaten
Dairi – Robert H. Ginting, AP, M.Si mengucapkan turut berdukacita atas
berpulangNya Bapak Jenderal TNI. Try Sutrisno mantan Wakil Presiden
Republik Indonesia. Menurutnya, sosok Jendral ini begitu berwibawa dan cerdas
dalam kesehariannya. Pemuda Merga Silima Kabupaten Dairi merasa kehilangan dan
ikut berdoa kepada Tuhan YME kiranya beliau ditempatkan disisi sang Pencipta
Alam Semesta. Jendral Try Sutrisno ini lahir pada ..
tanggal 5 November 1935 dan.meninggal dunia pada tanggal 2 Maret 2026. Ia adalah seorang purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat yang
menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia keenam dari
tahun 1993 hingga 1998.
Lahir di Surabaya, Hindia Belanda (sekarang Indonesia),
Try merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat pada tahun
1959. Selama kariernya, Try pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan
Darat (1986-1988) dan Panglima Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia (1988-1993).
Try Sutrisno lahir
pada 15 November 1935 di Gang Genteng Bandar Lor, Surabaya, Jawa
Timur. Ayahnya, Subandi berasal
dari Garut, Jawa
Barat yang bekerja di Dinas Kesehatan Kota Surabaya sebagai
sopir ambulans, dan ibunya bernama Mardiyah yang berasal dari Surabaya adalah
seorang ibu rumah tangga.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, Belanda kembali untuk mengklaim kembali Indonesia sebagai
koloni mereka. Try Sutrisno dan keluarganya pindah dari Surabaya ke Mojokerto.
Ayahnya bekerja sebagai petugas medis untuk Batalyon Angkatan
Darat Poncowati, memaksa Try Sutrisno untuk berhenti sekolah dan mencari nafkah
sebagai penjual rokok dan penjual Koran
Pada usia 13, Try Sutrisno ingin
bergabung dengan Batalyon Poncowati dan melawan tetapi tidak ada yang
menganggapnya serius dan ia akhirnya dipekerjakan sebagai kurir. Tugas Try Sutrisno adalah
untuk mencari informasi ke daerah-daerah yang diduduki oleh tentara Belanda
serta mengambil obat untuk Angkatan Darat Indonesia.
Akhirnya pada tahun 1949,
Belanda mundur dan mengakui kemerdekaan Indonesia. Try Sutrisno dan keluarganya
kemudian kembali ke Surabaya di mana ia menyelesaikan pendidikannya di SMA Bagian B pada tahun 1956.
Setelah lulus
dari SMA, Try Sutrisno ingin mendaftar di ATEKAD (Akademi Teknik Angkatan
Darat). Dia berpartisipasi dan lulus dalam ujian masuk, sebelum gagal dalam
pemeriksaan fisik. Meskipun demikian, Mayor Jenderal GPH
Djatikusumo tertarik dengan Try dan memanggilnya kembali.
Try
Sutrisno berpartisipasi dalam pemeriksaan psikologis di Bandung, Jawa Barat,
dan ia diterima di ATEKAD. Di ATEKAD pula ia berteman akrab dengan Benny Moerdani.
Pengalaman militer
pertama Try Sutrisno adalah pada tahun 1957, ketika ia berperang melawan
Pemberontakan PRRI.
Pemberontakan PRRI adalah kelompok
separatis di Sumatra yang ingin
membentuk pemerintahan alternatif selain Presiden Soekarno. Try Sutrisno menyelesaikan
pendidikan militernya pada tahun 1959, ketika ia lulus dari ATEKAD. Pengalaman
awal Try Sutrisno di ABRI termasuk
menjalankan tugas di Sumatra, Jakarta, dan Jawa Timur.
Pada tahun 1972, Try
dikirim ke Sekolah
Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Pada tahun 1974, Try
terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Soeharto mulai menyukai Try dan
sejak saat itu, karier militer Try akan meroket.
Pada tahun 1978, Try diangkat
menjadi Kepala Staf di KODAM XVI/Udayana. Setahun kemudian, ia menjadi Panglima
KODAM IV/Sriwijaya, di mana ia memulai kariernya. Sebagai Pangdam, Try Sutrisno
pindah untuk menekan tingkat kejahatan serta menghentikan penyelundupan timah.
Dia bahkan berpartisipasi dalam kampanye lingkungan untuk mengembalikan gajah Sumatra ke habitat alami mereka.
Pada tahun 1982, Try diangkat
menjadi Panglima KODAM V/Jaya dan ditempatkan di Jakarta.
Tahun 1984 pemerintah
mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan semua organisasi apakah itu
politik atau non-politik untuk mengadopsi ideologi nasional Pancasila sebagai
prinsip tunggal (Asas Tunggal).
Perbedaan pendapat di kalangan
Islam mencapai puncaknya ketika para ulama mulai mengajarkan pertentangan
penerapan Pancasila sebagai ideologi nasional, yang mereka anggap sebagai kristenisasi pemerintah,
program keluarga berencana pemerintah, dan dominasi perekonomian Indonesia oleh
populasi Tionghoa-Indonesia.
Pada tanggal 7 September 1984, Sersan Satu
Hermanu, melakukan pemeriksaan di Jakarta Utara, datang ke masjid yang terdapat
poster yang meminta perempuan untuk mengenakan jilbab.
Ini adalah poster atau selebaran yang mendorong Muslim yang membacanya untuk
menentang kebijakan pemerintah untuk tidak membiarkan wanita mengenakan jilbab.
Sertu Hermanu meminta selebaran untuk diturunkan tetapi perintahnya tidak
diikuti. Keesokan harinya, Hermanu kembali dan
menghapus poster itu dengan koran yang dicelup air got. Entah bagaimana rumor
mulai beredar di sekitar yang menyebutkan bahwa Hermanu telah mencemarkan
masjid dengan masuk ke dalamnya tanpa membuka sepatunya.
Hal itu menyebabkan
kemarahan warga dan sepeda motor Hermanu dibakar. Tentara kemudian kembali
untuk menangkap 4 pemuda yang membakar sepeda motor. Selama beberapa hari
berikutnya ada protes yang meminta pembebasan 4 pemuda dan ulama mengambil
keuntungan dari situasi untuk berkhotbah menentang pemerintah.
Akhirnya pada
tanggal 12 September 1984, kerumunan di Tanjung Priok mulai
menyerang toko-toko yang dimiliki oleh orang Tionghoa serta mendatangi markas
Kodim Jakarta Utara.. Try
Sutrisno, bersama dengan Panglima ABRI, Benny Moerdani setuju bahwa pasukan harus
dikerahkan untuk menghadang perusuh.
Kerusuhan terus memburuk, menurut tentara,
massa menolak untuk mengindahkan tembakan peringatan dan melanjutkan penyerbuan
mereka dengan mengacung-acungkan golok dan celurit. Akhirnya pasukan terpaksa melepaskan tembakan.
Pemerintah mengklaim
bahwa 28 orang tewas tetapi korban tetap bersikeras bahwa sekitar 700 orang
tewas. Wakil KSAD dan Kepala Staf TNI Angkatan
Darat. Karier Try Sutrisno terus meningkat. Pada tahun 1985, ia menjadi
Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, sebelum menjadi Kepala Staf Angkatan
Darat pada tahun 1986.
Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, Try
memulai Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD untuk
memudahkan bagi prajurit Angkatan Darat untuk membeli rumah bagi mereka sendiri. Try Sutrisno akhirnya mencapai
puncak karier militer pada tahun 1988, ketika ia ditunjuk sebagai Panglima ABRI untuk menggantikan L.B. Moerdani.
Sebagai Panglima ABRI,
Sutrisno menghabiskan banyak waktu untuk menumpas pemberontakan di seluruh
Indonesia. Target langsungnya adalah separatis di Aceh, yang
berhasil ditekan pada 1992.
Pada tahun 1990, ada Insiden Talangsari, di mana Try Sutrisno
mengulangi tindakannya pada tahun 1984 dengan menindak kelompok demonstran
Islam. Pada bulan November 1991, di Provinsi Timor
Timur, sekelompok mahasiswa menghadiri pemakaman seorang teman
mereka yang telah ditembak mati oleh pasukan Indonesia dan mereka mengambil
kesempatan untuk meluncurkan protes terhadap pendudukan Indonesia.
Pada prosesi
pemakaman, para mahasiswa menggelar spanduk untuk penentuan nasib sendiri dan
kemerdekaan, menampilkan gambar pemimpin kemerdekaan Xanana Gusmão. Ketika prosesi tersebut
memasuki kuburan, pasukan Indonesia mulai menembak.
Dari orang-orang yang
berdemonstrasi di kuburan, 271 tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang. Insiden,
yang dikenal sebagai Insiden Dili ini, memicu kecaman dari
masyarakat internasional seluruh dunia.
Try Sutrisno mengatakan dua hari
setelah pembantaian: "Tentara tidak dapat diremehkan. Akhirnya kami harus
menembak mereka. Berandalan seperti agitator ini
harus ditembak, dan mereka akan .... ".
Try Sutrisno kemudian diundang
untuk berbicara di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk
menjelaskan dirinya sendiri. Try Sutrisno memberikan pembelaan keputusannya dan
menyatakan bahwa pengunjuk rasa memprovokasi tentara dan bahwa klaim bahwa
protes yang damai adalah "omong kosong".
Masa jabatan Try Sutrisno
sebagai Panglima ABRI berakhir pada bulan Februari 1993. Pada bulan Februari
1993, bulan yang sama ketika Try berhenti dari posisinya sebagai Pangab dan
sebulan sebelum Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) dijadwalkan bertemu untuk memilih Presiden dan
Wakil Presiden baru, anggota MPR dari fraksi ABRI mencalonkan Try Sutrisno
untuk menjadi Wakil Presiden.
Secara teknis, anggota fraksi MPR diizinkan untuk
mengajukan calon mereka untuk Wakil Presiden. Tapi aturan tak tertulis dalam
rezim Soeharto adalah menunggu Presiden untuk mengajukan calon yang dipilihnya.
Anggota dari Partai Persatuan
Pembangunan dan Partai Demokrasi
Indonesia dengan cepat menyetujui pencalonan Try sementara Golkar berjuang
dalam memberitahu anggotanya bahwa Golkar tidak mencalonkan Try sebagai Wakil
Presiden.
Soeharto dilaporkan marah karena telah didahului oleh ABRI, tetapi ia
tidak ingin adanya perselisihan terbuka. Soeharto akhirnya menerima Try dan
Golkar mencoba mengecilkan ketegangan dengan mengatakan telah membiarkan pihak
lain dan ABRI mencalonkan kandidat Wakil Presiden mereka.
ABRI sudah
membalaskan dendam mereka dari Sidang Umum MPR 1988 saat Soeharto memilih Sudharmono,
seseorang tidak menyukai ABRI sebagai Wakil Presiden. Benny Moerdani yang pada
tahun 1993 adalah Menteri Pertahanan, dia bertekad bahwa ABRI akan memilih
Wakil Presiden bagi Suharto pada Sidang Umum MPR 1993.
Berspekulasi bahwa tidak
pernah mendahului, Soeharto akan memilih baik BJ
Habibie sebagai Wakil Presidennya atau memilih kembali
Sudharmono. Meskipun ia telah menerima Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden,
namun Soeharto merasa tidak senang pada Wakil Presidennya. Soeharto
menunjukkan sedikit hal dan bahkan tidak berkonsultasi dengannya dalam proses
pembentukan kabinet.
Saat Soeharto berkunjung ke Mesir tahun 1995, Try
dalam sebuah pemberitaan di harian nasional menyatakan jika dalam bisnis, anak
pejabat jangan pakai nama bapaknya, pihak penguasa marah dan sejak itu
pemberitaan Try Sutrisno di harian manapun ditiadakan. Beberapa bulan
kemudian Ibu Negara wafat.
Pengabaian lainnya
datang pada akhir 1997 ketika Soeharto harus pergi ke Jerman untuk menerima
perawatan kesehatan. Alih-alih mendelegasikan Try Sutrisno untuk menjalankan
tugas Presiden, Soeharto memerintahkan Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono untuk
datang ke kediamannya untuk menerima tugas Presiden.
Sebuah
KTT APEC juga
dihadiri oleh Menteri Luar Negeri, Ali Alatas.
Try Sutrisno adalah figur yang sangat populer dan banyak yang mengira bahwa ia
akhirnya akan menggantikan Soeharto sebagai Presiden Indonesia.
Karena
dia memiliki latar belakang militer, ia akan diterima oleh ABRI. Pada saat yang
sama, dia juga seorang kandidat yang diterima elemen Islam di Indonesia,
dibesarkan bersama sebuah sekolah Islam.
Pada tahun 1998, pada Sidang Umum MPR
lainnya yang akan diselenggarakan dan Asia Tenggara sedang
menderita akibat Krisis Finansial Asia, banyak yang ingin
Try Sutrisno untuk mengemban masa jabatan kedua sebagai Wakil Presiden.
Meskipun ada dukungan yang kuat, Try Sutrisno tidak menegaskan dirinya dan
pilihan Soeharto untuk Wakil Kepresidenan diserahkan kepada Habibie. Pada Mei
1998, pada malam jatuhnya Soeharto, Try Sutrisno, bersama dengan Umar Wirahadikusumah dan Sudharmono
mengunjungi Soeharto di kediamannya untuk membahas opsi yang memungkinkan.
Pada
tahun 1998, Try terpilih menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri).
Ia berhasil membuat Pepabri bersatu menjadi satu di bawah kepemimpinannya
meskipun suasana lazim pada waktu itu setiap cabang dari Angkatan Bersenjata
memiliki persatuan purnawirawan mereka sendiri.
Try Sutrisno menyelesaikan masa
jabatannya di posisi ini pada tahun 2003. Try juga menjabat sebagai sesepuh
partai untuk partainya Jenderal Edi
Sudrajat, Partai Keadilan dan
Persatuan Indonesia.
Pada bulan Agustus 2005, Try Sutrisno, bersama
dengan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Wiranto,
dan Akbar Tanjung membentuk sebuah forum yang
disebut Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu. Forum ini mengkritik pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono atas nota kesepahaman dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Hal ini
diikuti pada bulan September 2005 dengan kritik terhadap keputusan Yudhoyono
menaikkan harga BBM. Try Sutrisno agak melunak sikapnya dengan pemerintah
setelah pertemuan dengan Wakil Presiden Jusuf
Kalla pada bulan September 2005. Kalla dikirim untuk
menjelaskan alasan di balik kebijakan yang diambil terhadap GAM dan menaikkan
harga BBM.
Pada akhir pertemuan, Try mengatakan bahwa ia dapat memahami posisi
pemerintah dan mendorong orang-orang untuk mendukung pemerintah dalam keputusan
mereka.
Pada 5 Februari 1961, Try Sutrisno mengakhiri
masa lajangnya dengan menikahi pujaan hatinya yaitu seorang guru kelahiran Bandung bernama Tuti Sutiawati dan dikaruniai 7 orang anak yaitu Nora
Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto
Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari. Salah satu menantunya
adalah Ryamizard Ryacudu yang menikah dengan Nora Tristyana; Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Try_Sutrisno

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon Tinggalkan Pesan